powerangga

Powered By Blogger

Jumat, 19 Maret 2010

t-shirt

T-shirt, jenis pakaian yang paling digemari oleh berbagai kalangan dan umur. Mulai dari bayi, anak kecil, muda ampe kakek-nenek (eitss…gak boleh protes, nenekku gaul soalnya, umur 80 tahun masih pake t-shirt) semua suka pakai t-shirt.

Menurut Wikipedia :

T-shirts are typically made of cotton or polyester fibers (or a mix of the two), knitted together in a jersey stitch that gives a T-shirt its distinctive soft texture. T-shirts are often decorated with text and/or pictures. It is also a good place to advertise.

T-shirt fashions include styles for men and women, and for all age groups, including baby, youth and adult sizes.

Awalnya, t-shirt berfungsi sebagai underwear tetapi seiring perkembangannya, t-shirt tidak hanya dipakai sebagai underwear melainkan juga dipakai di luar sebagai pakaian sehari-hari. Bahkan dipakai sebagai salah satu alat kampanye politik, pertama kalinya di USA saat kampanye pemilihan presiden tahun 1948 oleh gubernur New York saat itu Thomas E. Dewey yang memproduksi t-shirt dengan tulisan “Dew It for Dewey”. Hal ini ditiru pada tahun 1952 dengan munculnya t-shirt dengan tulisan “I Like Ike” untuk mendukung Jenderal Dwight D. Eisenhower. Bahkan bintang2 film ternama saat itu seperti John Wayne, Marlon Brando dan James Dean memakai t-shirt saat muncul di televisi nasional.

Pada awalnya orang2 masih belum bisa menerima pemakaian t-shirt yang bukan sebagai underwear tetapi pada tahun 1955, masyarakat mulai bisa menerima dan sejak itulah pemakaian t-shirt semakin berkembang. Warna dan gambar serta modelnya pun semakin beragam.

Sekarang, t-shirt banyak dipakai di kalangan anak muda. Di Bandung bahkan pernah mewabah pembukaan distro clothing yang barang jualan utamanya adalah t-shirt, tentunya dengan desain dan model yang sangat beragam dan berbeda gaya antara satu distro dengan distro yang lainnya. Sekarang sudah agak menurun pembukaan distro2 baru di Bandung, mungkin karena persaingan yang semakin ketat. Sehingga lebih banyak yang membuka distro clothing di luar kota Bandung, seperti di Garut, Tasikmalaya, dll.

Jogjakarta juga termasuk salah satu kota yang anak2 mudanya berhasil sukses membuat terobosan dengan membuat kaos-kaos yang berkualitas bagus (baik bahan kaos maupun sablonannya) dengan berbagai desain yang terutama ditekankan pada ‘guyonan’ alias joke-joke yang populer di kalangan anak muda di Jogjakarta, bahkan banyak yang memakai bahasa Jawa.

Distro2 ini sangat digemari anak2 muda terutama karena selain desainnya bagus (baca : gak malu-maluin dan gak pasaran), harganya juga cukup terjangkau antara Rp 40.000 s/d Rp 70.000 untuk kaos, Rp 100.000 s/d Rp 200.000 untuk jaket, Rp 150.000 s/d Rp 250.000 untuk celana panjang dan Rp 50.000 s/d Rp 150.000 untuk rok. Sedangkan produk lain yang biasanya juga dijual di distro clothing adalah tas, dompet, aksesori seperti gelang-kalung-gantungan dan pouch handphone-scarf-belt, sepatu, berbagai macam sticker bahkan sampai kaset/CD dari grup band lokal dan asing. Kebanyakan pemilik distro di Bandung memang terhubung erat dengan lingkungan musisi Bandung (tentunya dengan berbagai aliran musiknya, dari punk sampai pop dan rock ‘n roll) yang tentunya berhubungan juga dengan lingkungan anak-anak skateboard Bandung dan berbagai jenis kelompok lain. Hal ini banyak mempengaruhi trend dari desain dan model t-shirt yang beredar dan tersedia di distro-distro. Trend juga dipengaruhi oleh merk-merk clothing dari luar negeri, khususnya merk-merk clothing yang mengkhususkan pada olah raga selancar alias surfing.

Kebanyakan distro sudah memiliki desainer sendiri sehingga desain yang dibuat tidak akan sama dengan distro yang lain (kan harus bersaing ). Biasanya satu desain t-shirt hanya dibuat beberapa buah saja dengan warna-warna yang terbatas juga, supaya tidak pasaran. Sedangkan untuk desain aksesoris biasanya dibuat lebih banyak jumlah dan jenisnya. Kadang ada juga distro yang menerima pesanan custom, terutama untuk jaket, aksesoris dan sepatu, tentunya dengan harga yang berbeda. Untuk bisa bersaing, setiap distro harus memiliki desain yang khas alias kudu beda dari distro yang lain. Ya kalo pasaran sih belanja di Matahari aja

Bisnis distro memang cukup menjanjikan, tapi kalo buka di Bandung kayaknya udah kepenuhan….jadi mendingan buka distro di kota2 sekitar Bandung seperti di Cirebon, Kuningan, Tasik, Garut, Sumedang, Majalengka atau merambah ke kota-kota di daerah Jawa Tengah. Masih ‘agak’ lowong pasarnya. Modal awal buka distro bervariasi, tergantung dari banyaknya barang/item yang ingin kita buat untuk dijual pertama kali. Kalau mau mengurangi beban dalam permodalan, mungkin bisa join dengan teman dalam hal uangnya atau minta tolong teman untuk membuatkan desainnya dan menyablonkan di kaosnya. Tapi harus tetap jelas ya hitung-hitungannya, karena teman ya teman tapi bisnis tetap bisnis. Cuma untuk awalnya kalo joinan gini kan jadi lebih ringan, biaya desain dan sablon jadi bisa dibayar nanti di belakang.

tentang distro di indonesia

Kamu-kamu mungkin pernah mendengar yang namanya Maximum Rock and Roll, Sniffin Glue, Flipside dan sebagainya? Yah, nama-nama tersebut adalah nama dari sebuah media massa indie (independen). Atau nama-nama tersebut masih terasa asing bagi kamu! Bagaimana dengan nama-nama berikut ini Ripple magazine, Outmagz, Brainwash, Minor, dan lain-lain! Yah, itu adalah nama sebagian besar media massa indie yang berkembang di Indonesia. Melihat perkembangan sekarang ini bisa dikatakan bahwa media massa indie menjadi semacam progress dalam sub-kultur indie terutama di kalangan anak muda.

Semenjak gejala indie yang “menyerang” generasi muda kita beberapa tahun ke belakang tentunya menjadi filosofis tersendiri dengan kata-kata “Do It Yourself” (D.I.Y.) yang menjadi semacam ikon atau tagline bagi indienista (para kaum indie hehehe...). Indie dikatakan sebagai penggerak kebebasan, berjiwa bebas, bebas sebebas-bebasnya! Tentunya dengan alasan filosofis seperti ini penggerak indie bisa lebih mengutarakan ego dan idealisme tanpa takut dengan segala kekangan-kekangan yang mengikat. Yah, pada intinya kebebasan berekspresi.Spirit indie kemudian datang dengan berbagai ekspresi dan kreativitas. Ada yang menuangkannya ke dalam musik, film, karya seni, komik, novel, maupun ke dalam bentuk media massa! Media massa yang menjadi perantara antara spirit D.I.Y. dengan kreativitas-kreativitas dalam konteks indie itu sendiri (musik, film, karya seni dll.).. Seperti contoh, media massa musik indie dalam waktu 10-15 tahun kebelakang biasa mengangkat musik-musik yang kurang mendapat perhatian seperti musik punk rock, hardcore, thrash metal, grindcore, heavy metal, brutal metal, death metal, black metal, dan sebagainya. Berbeda dengan media massa mainstream yang lebih mengangkat musik-musik komersil saja. Namun, keadaannya kini berbeda. Media massa musik indie tidak hanya mengangkat musik-musik keras saja. Seiring dengan konsentrasi dan perubahan-perubahan signifikan terhadap kultur anak muda itu sendiri maka banyak pula musik-musik indie seperti beraliran indie pop, indie rock, power pop, bahkan jazz yang menjadi tema dari media massa musik indie itu sendiri. Karena esensi sebenarnya yaitu mengangkat musik yang kurang mendapat perhatian dari media massa mainstream dan lebih mengutamakan aspek kreativitas dan unik dibandingkan musik komersil biasa. Kita mengenal nama-nama grup band indie yang membawakan musik pop dan tentunya unik dan kreatif seperti White Shoes And The Couples Company, Sajama Cut, Mocca, Homogenic, Cherry Bombshell, Pure Saturday dll. Mereka adalah sebagian besar nama besar yang berasal dari kalangan indie.Selain musik, fashion pun menjadi hal yang stand-up untuk dijadikan tematis yang sesuai dengan kontekstual indie. Apalagi fenomena distro (distribution outlet) sudah menjadi ikon bagi indie itu sendiri, so fashion dan sub-subnya seperti clothing dan desain grafis menjadi hal yang menarik juga untuk diperhatikan. Untuk hal-hal seperti ini di Bandung kita mengenal media massa indie seperti Majalah Jeune, Majalah Slow, Majalah Suave, dll.<>

Filosofis Indie

Informasi. Itu adalah kata kunci yang sebenarnya. Dengan kekebasan berekspresi dan spirit D.I.Y. kini semua orang tidak hanya ingin menjadi penikmat informasi tetapi juga pemberi informasi. Perkembangan budaya terutama kultur anak muda di Indonesia dengan semangat independensi atau D.I.Y. (Do It Yourself) memberikan kesempatan-kesempatan untuk menyajikan informasi kepada ruang publik secara bebas. Banyak sekali majalah-majalah indie, bulletin-buletin komunitas, newsletter propaganda, fanzine, dan masih banyak lagi. Meski penyajian seperti itu tidak menyajikan informasi secara global, tetapi hal itu merupakan suatu pembenaran dengan memberikan sedikit kontribusinya bagi perkembangan informasi di Indonesia hingga saat ini. Setidaknya bagi golongan tertentu. Tentunya sangat banyak objek terhadap kultur indie itu sendiri sebagai bentuk eksploitasi kultur anak muda. Biasanya media massa indie itu lebih menceritakan kultur yang sangat dekat dengan komunitasnya, seperti komunitas musik punk rock, metal, hardcore, atau komunitas dalam bidang olahraga skateboard, BMX, atau bidang lifestyle seperti fashion.

Saya ingin menegaskan bahwa pada intinya yang melandasi dari media massa indie itu sendiri yaitu kebebasan berekspresi tanpa takut kekangan-kekangan dengan objek-objek berita yang jarang diangkat oleh media massa mainstream. Mengangkat hal-hal kecil di seputar kita yang jarang terekspose. Mengajak diri bersikap kritis dan mencoba menuangkannya ke dalam bentuk tulisan sebagai bentuk protes kita terhadap hal apapun baik itu politik, sosial, maupun budaya. Karena biasanya justru media-media massa indie seperti itu lebih bebas dan lepas untuk mengungkapkan kepahitan secara blak-blakan dalam bidang politik, sosial, dan budaya terutama media-media massa indie yang berlandaskan kultur punk contoh kalau di luar negeri seperti Sniffin Glue dan di Indonesia seperti Brainwashed. Mereka berani. Karena itu tadi DO IT YOURSELF!!!

sejarah distro

Di Kota Bandung – bagi sebagian masyarakatnya – keberadaan berbagai t-shirt seperti yang diperbincangkan di atas bisa jadi merupakan satu hal yang lazim. Demikian juga dengan keberadaan geng motor tua, sepeda bmx, penggemar musik hip-hop, musik elektronik, break dance, hardcore, grindcore, sampai dengan komunitas penggemar musik punk yang tersebar di beberapa tempat di sekitar pojokan kota. Dengan penampilan yang spesifik, beberapa kelompok ini menyebar di sekitar kampus-kampus, pojok-pojok jalan, diskotik, bar, daerah pertokoan, kamar kost, rumah kontrakan, shooping mall, dan lain sebagainya. Di malam Minggu, beberapa komunitas ini biasanya terlihat di sekitar Jalan Dago, Gasibu, BIP, Cihampelas, sampai Jalan Braga. Di Bandung, kebanyakan orang tampaknya memang masih punya banyak waktu luang untuk memikirkan beberapa hal yang mendetail dalam kehidupan sehari-hari mereka. Beberapa hal detail yang kemudian bermuara pada beragam kecendrungan akan gaya hidup, perilaku, dan berbagai aliran pemikiran.

Dadan Ketu, sebutlah demikian. Terlahir di Kota Bandung pada tahun 1973. Pemilik nama ini bukanlah figur yang asing lagi bagi mereka yang akrab dengan komunitas underground Kota Bandung di era pertengahan ‘90-an. Bersama 8 orang temannya, pada sekitar tahun ‘96 ia berinisiatif untuk membentuk sebuah kolektif yang kini dikenal dengan nama Riotic. Melalui ketertarikan akan satu model ideologi yang sama, komunitas ini kemudian mulai memproduksi musik rilisan mereka sendiri, yang kemudian berkembang menjadi sebuah toko kecil yang menjual segala macam pernak-pernik dari mulai kaset, merchandise band, t-shirt dan lain sebagainya.

Lain lagi dengan Dede, yang bersama keempat temannya mendirikan sebuah distro(2) yang bernama Anonim pada tahun 1999. Terutama karena ketertarikan pada musik dan film, kelompok ini kemudian mulai menjual t-shirt yang dipesan secara online melalui internet. Kini selain menjual barang-barang import, mereka juga menjual kaset-kaset underground dan produk-produk dari label clothing lokal, yang konon kabarnya mencapai sekitar 100 label clothing yang muncul bergantian seperti cendawan di musim hujan. Menurutnya, penjualan produk lokal meningkat jumlahnya setelah terjadi krisis ekonomi pada tahun 1996, yang menyebabkan harga barang impor meningkat dan semakin sulit didapat.

Riotic dan Anonim, dua nama ini adalah sedikit dari deretan nama-nama seperti, Harder, Riotic, Monik Clothing, 347 Boardrider & Co., No Label Stuff, Airplane Apparel System, Ouval Research, dan lain sebagainya. Sejak pertengahan ‘90-an, di Kota Bandung memang bermunculan beberapa komunitas yang menjadi produsen sekaligus pelanggan tetap beberapa toko kecil - sebutlah distro - yang menjual barang-barang yang tidak ditemui di kebanyakan toko, shooping mall, dan factory outlet yang kini juga tengah menjamur di Kota Bandung. Berbekal modal seadanya, ditambah dengan hubungan pertemanan dan sedikit kemampuan untuk membuat dan memasarkan produk sendiri, kemunculan toko-toko semacam ini kemudian tidak hanya menandai perkembangan scene anak muda di Kota Bandung, tetapi juga kota-kota lain semisal Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dsb.

Reverse: Markas Kecil di Sukasenang
Adalah Reverse, sebuah studio musik di daerah Sukasenang yang kemudian dapat dikatakan sebagai cikal bakal yang penting bagi perkembangan komunitas anak muda di Kota Bandung pada awal era ‘90-an. Di awal kemunculannya pada sekitar tahun ‘94, semula Richard, Helvi, dan Dxxxt (3 orang pendiri pertama dari Reverse), hanya memasarkan produk-produk spesifik yang terutama diminati oleh komunitas penggemar musik rock dan skateboard. Dapat dikatakan, komunitas ini kemudian merupakan simpul pertama bagi perkembangan komunitas ataupun kelompok subkultur anak muda pada saat itu. Ketika semakin berkembang, Reverse kemudian menjadi sebuah distro yang mulai menjual CD, kaset, poster, artwork, asesoris, termasuk barang-barang impor maupun barang buatan lokal lainnya.

Kemudian bermunculan sederet komunitas baru yang lebih spesifik lagi. Dari yang semula hanya didatangi oleh penggemar musik rock dan komunitas skateboard, Reverse mulai didatangi oleh beberapa kelompok yang berasal dari scene yang lain. Dari yang meminati musik pop, metal, punk, hardcore, sampai pada kelompok skater, bmx, surf dan lain sebagainya. Belakangan, nama Reverse bermutasi menjadi Reverse Clothing Company, yang sekarang ini dikelola oleh Dxxxt. Menurut Richard, selain karena musik rock dan skateboard, saat itu kemunculan beragam komunitas semacam ini juga didorong oleh keberadaan beberapa film seperti The Warrior (Walter Hill/1979), BMX Bandit (Brian Trenchard-Smith/1983),Thrashin (David Winters/1986), Gleaming The Cube (Graeme Clifford/1989), dan film-film sejenis yang bercerita mengenai berbagai macam komunitas anak muda di Barat (Eropa Barat & Amerika).(3)

“Dulu gua kalo mau nyari posternya Frank Zappa nggak mungkin dapet di tempat lain, pasti gua nyarinya ke Reverse!”, ujar Edi Khemod yang merupakan drummer band cadas bernama Seringai, sekaligus seorang penulis, produser rumah produksi Cerahati dan juga salah seorang anggota dari Biosampler; sebuah kelompok seniman multimedia yang sering muncul dalam aktifitas artistik di club scene kota Bandung dan Jakarta. Kebutuhan yang spesifik semacam inilah yang kemudian tertularkan pada beberapa komunitas dan distro-distro pada generasi sesudahnya. Kembali menurut Richard, menurutnya mereka yang datang ke Reverse itu kebanyakan mencari barang yang tidak terdapat di toko, shooping mall, atau departemen store. Hal ini juga diakui oleh Dadan dan Dede. Menurut mereka rata-rata yang datang ke distro itu orang-orang yang punya kebutuhan spesifik yang berbeda dengan kebutuhan orang kebanyakan. “Karena itu mereka mencari sesuatu yang lain, yang sulit ditemukan di wilayah-wilayah yang lebih mapan”, ujar Richard dalam sebuah wawancara. Untuk saya sendiri hal semacam ini tentu saja dapat dikatakan wajar. Kebanyakan anak muda memang punya tabiat untuk selalu mencari pengalaman yang baru dan berbeda.

Tampaknya dari kondisi yang spesifik semacam inilah, dinamika perkembangan industri musik, termasuk perkembangan fashion anak muda di Bandung selalu menemui banyak pembaharuan. Dari mulai jaman celana jeans di Jalan Cihampelas, tas ransel Jayagiri, jaman kaos oblong C-59, clothing lokal, band-band underground, distro, dan seterusnya sampai sekarang. “Perjumpaan yang terus menerus dengan hal/orang/barang yang sama, kadang-kadang menimbulkan perasaan jenuh/bosan/muak; bila tak tertahankan lagi, orang ingin keluar/melepaskan diri dari situasi itu: ingin tampil beda.” Demikian urai Yuswadi Saliya, seorang arsitek yang tinggal di Bandung ketika membalas pertanyaan dalam email saya untuk kasus ini. Saya pikir demikianlah adanya, Kota Bandung memang memiliki segudang rutin yang memaksa setiap warganya untuk terus bergerak mencari sesuatu yang baru dan berbeda. Kini beragam komunitas anak muda di kota Bandung terus bermunculan. Tidak lagi di Sukasenang, tetapi juga menyebar ke seluruh pelosok kota, mulai di bilangan Jalan Setiabudi (Monik/Ffwd Records), Citarum (347/EAT – Room No. 1), Moch. Ramdan (IF), Balai Kota (Barudak Balkot), Sultan Agung (Omuniuum), Saninten (Cerahati/Biosampler), Kyai Gede Utama (Common Room/ tobucil/Bandung Center for New Media Arts dan Jendela Ide), sampai ke daerah Ujung Berung (Ujung Berung Rebel/Homeless Crew), dsb.

“Karena Bandung kotanya kecil, jadi mau ngapa-ngapain gampang…lagian orang-orangnya juga kekeluargaan, cair banget, baturlah, semua dianggap sama.” Ujar Dede pada suatu kesempatan. Hal ini juga kembali disepakati oleh Dadan Ketu. Menurutnya, mereka yang berusaha di bidang clothing lokal tidak menemui kesulitan yang berarti ketika mereka harus berproduksi. “Mau cari bahan gampang pisan, tinggal ke Jalan Otista, Tamim, Cigondewah, Cimahi, Majalaya, terus tukang nyablon juga di sini mah banyak pisan, jadi nggak susah.”, jelasnya.

Paska 1990: Desa Global, GMR, dan MTV
Tidak hanya di era ‘90-an – apabila kita lihat beberapa catatan di atas – sejak awal kemunculannya harus diakui Kota Bandung memang banyak menerima pengaruh dari Barat (Eropa Barat & Amerika). Namun, pada periode berikutnya tidak dapat dipungkiri kalau ada pengaruh lain yang tak kalah penting bagi perkembangan scene anak muda di Bandung, yaitu media. Sebagai contoh di bidang musik misalnya, melalui tangan dingin seorang Samuel Marudut (alm.), pada tahun ‘92-an sebuah radio yang bernama GMR menjadi satu-satunya radio di Indonesia yang membuka diri untuk memutarkan rekaman demo dari band-band baru yang ada di kota ini, sehingga ikut memicu pertumbuhan scene musik yang ada pada saat itu. Selain memicu pertumbuhan komunitas musik di Kota Bandung, radio ini juga ikut mempopulerkan keberadaan beberapa band yang berasal dari luar kota Bandung.

Selain itu, perkembangan di bidang teknologi media & informasi juga secara radikal mampu mendorong perkembangan budaya kota di Bandung kearah yang lebih jauh. Salah satu contohnya adalah perkembangan teknologi rekaman yang memungkinkan band-band baru merekam musik mereka dengan menggunakan komputer, sehingga tidak lagi harus bersandar pada industri mainstream & produk impor. Saat ini, industri musik di Bandung sudah biasa diproduksi di studio-studio kecil, rumah, maupun di kamar kost. Selain itu, perkembangan di bidang teknologi informasi juga memudahkan setiap komunitas yang ada untuk berhubungan dan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Melalui jaringan internet yang sudah berkembang sejak tahun 1995-an, Kota Bandung saat ini sudah menjadi bagian dari jaringan virtual yang semakin membukakan pintu menuju jaringan global.

Kehadiran MTV pun setidaknya memiliki peran yang tidak sedikit, karena melalui stasiun inilah beberapa band underground Bandung mendapat kesempatan untuk didengar oleh publik secara lebih luas. Selain itu, para presenter MTV siaran nasional pun tidak segan-segan untuk memakai produk-produk dari clothing lokal yang berasal dari Kota Bandung, sehingga produk mereka menjadi semakin populer. Dampaknya tentu saja tidak kecil. Selama beberapa tahun terakhir warga Kota Bandung mungkin sudah mulai terbiasa dengan jalan-jalan yang macet pada setiap akhir minggu. Selain menyerbu factory outlet, para pengunjung yang datang ke Kota Bandung pun biasanya ikut berbondong-bondong mendatangi distro-distro yang ada, sehingga memicu pola pertumbuhan yang penting, terutama dari segi ekonomi.

Melalui keberadaan beberapa komunitas anak muda yang senantiasa menyediakan barang-barang yang mereka produksi secara mandiri, setidaknya kita dapat melihat berbagai kumpulan tanda yang baru yang berbeda dengan masa sebelumnya. Apabila pada masa sebelumnya komunitas anak muda di Bandung sangat bergantung pada industri mapan dan berbagai produk impor, saat ini beberapa komunitas yang ada sudah mampu memproduksi kebutuhan mereka secara independen. Dalam beberapa kesempatan, wacana budaya perlawanan (counter culture) pun kerap mewarnai keberadaan komunitas ini. Diantara beberapa perilaku komunitas anak muda yang disebutkan tadi, setidaknya kita bisa melihat ini sebagai sebuah sikap politik yang membangun bentukan watak yang khas. Bagi beberapa komunitas anak muda di Bandung, musik dan fashion saat ini bukan lagi hanya sekedar trend. Musik dan fashion dapat juga dilihat sebagai bentuk ekpresi kemandirian politik yang mampu mengakomodasi berbagai aspirasi personal yang mereka miliki. Untuk itu, saya rasa dalam konteks perbincangan mengenai perkembangan kelompok subkultur di kota Bandung, sebetulnya musik dan fashion juga dapat dilihat sebagai instrumen yang mampu menjelaskan berbagai pandangan dan perbedaan yang menyertai keberadaan komunitas-komunitas ini.

Pertumbuhan yang pesat yang sangat ditunjang oleh keberadaan beberapa media seperti stasiun TV, radio, majalah, fanzines, dan terutama internet, terus saja mendorong perkembangan komunitas anak muda di Bandung. Selain semakin memperjelas keberadaan beberapa komunitas yang ada, kemunculan berbagai macam media juga menambah perluasan jaringan sampai ke kota-kota lain di luar Bandung, malah sampai ke luar negeri. Ketika mulai merilis kaset dibawah label 40124 pada pertengahan ’90-an, Richard mengaku pernah mendapatkan pesanan kaset rilisannya dari seorang penggemar musik-musik underground dari Jepang, yang kebanyakan memesan melalui internet. Lewat label 40124 ini, pada tahun 1996 Richard juga sempat merilis album kompilasi legendaris yang diberi judul “masaindahbangetsekalipisan”, yang berisi kumpulan lagu dari beberapa band lokal seperti Full of Hate, Rotten to The Core, Sendal Jepit, Cherry Bombshell, Puppen, Balcony, dsb. Sementara itu, Dadan Ketu menyatakan kalau sekarang ini memang sudah sangat biasa kalau ada salah seorang pengunjung distro di Bandung datang dari luar negeri, semisal Singapura atau Malaysia. “Mereka datang biasanya langsung ngeborong, bawa kaset 100 biji untuk dijual lagi di negeri asalnya, ada yang bayar kontan, ada juga yang nyicil,” ujarnya.

Wujud dari terbentuknya jaringan yang meluas ini sebetulnya sudah semakin terasa sejak tahun ‘97. Pada bulan Agustus 1997 sebuah label rekaman punk dari Perancis yang bernama Tian An Men 89 Records merilis sebuah kompilasi yang berjudul “Injak Balik! a Bandung HC/Punk comp”. Kompilasi ini didukung oleh sejumlah band Bandung seperti Puppen, Closeminded, Savor Of Filth, Deadly Ground, Piece Of Cake, Runtah, Jeruji, Turtles Jr, dan All Stupid. Kebanyakan subject matter dari musik dalam album kompilasi ini berisi berbagai statemen politik yang disampaikan secara lugas oleh setiap band yang ikut terlibat di dalam proyek ini. Tidak hanya berhenti di situ, pada tahun 1999, label lokal yang bernama FastForward Records kemudian merilis beberapa album dari band yang berasal dari luar negeri seperti The Chinkees (Amerika), Cherry Orchard (Perancis), 800 Cheries (Jepang), dan lain sebagainya. Menurut Marin, salah seorang pendiri dari FastForward Records, setidaknya media-media komunikasi seperti internet, mesin fax dan jaringan telepon punya andil besar dalam proses produksi album dari band-band ini. Sekarang, label lokal yang merilis musik yang berasal dari luar negeri sudah bukan barang yang aneh lagi. Malah, beberapa band lokal di Bandung juga sudah banyak yang berkesempatan dirilis oleh label di mancanegara. Beberapa diantaranya adalah Homicide, Domestik Doktrin, Jasad, dsb.
Perluasan jaringan yang mempertautkan perkembangan di bidang musik dan fashion dengan perkembangan media dan teknologi informasi ini setidaknya melahirkan sebuah kombinasi perkembangan (kebudayaan) yang baru, baik dari segi ideologi sampai pada manifestasinya dalam pola kehidupan sehari-hari sebagian komunitas anak muda di Bandung. Hal ini menunjukan bahwa bagaimanapun perkembangan yang ada di kota Bandung tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan setiap gejala perkembangan di tingkat global. Seiring dengan perkembangan jaman, sampai saat ini scene anak muda di Kota Bandung masih terus tumbuh untuk terus melengkapi pola perkembangannya dengan wajah dan berbagai versinya yang baru. Jangan kaget kalau tiba-tiba anda bertemu dengan sekelompok anak muda dengan gaya yang identik dengan gaya anak muda di belahan dunia yang lain. Kota ini memang sedari dulu sudah menjadi bagian dari kota-kota lain di seluruh dunia.

Kamis, 18 Maret 2010






nah boz....ini ni aye kasih tengok beberapa produk dagangan aye yang uda ready stock.........

pada ngarti ga si apa itu distro.........

what's up mamen.....??
Distro merupakan singkatan dari Distribution Outlet (Nah.. baru pada tau ye..). Kalo dari arti katanya (ajegile....ada mana pake bahasa bule lagi...) Distro adalah suatu tempat untuk mendistribusikan suatu barang (tentunya bukan barang terlarang, seperti ttuuuuuutttsss.....sorry boz,,aye sensor dikit ni). tapi boz, untuk masalah barang yang ada di dalam sebuah Distro biasanya adalah barang-barang yang jumlahnya terbatas (kata orang jawwa sih "limited edition" gitu..........). Artinya barang-barang yang di jual adalah barang yang bukan di produksi massal dimana setiap gank kita bisa ketemu orang dengan baju yang sama. buset dah......kostum kali ye......??

Begitu juga untuk yang namanya Kaos Distro yang berarti kaos yang desainnya bukanlah desain umum serta mutu kaos yang tinggi (ya.. kasarannya bukan barang-barang pasaran plus kampungan lah-jadi wajar aje ye kalo rada mahal-mahal dikit-). Dengan menggunakan Kaos Distro inilah ada suatu kebanggaan dari si pemakainya dan bisa menambah nilai presisi dari seseorang. Di sinilah letak keunggulan utama dari Kaos Distro tersebut, So.. mulai sekarang cobalah kita untuk melihat suatu karya seni dari sebuah rasa bukan dari harga dan biaya... sederhananya sih sih..."jangan beli produk yang murah tapi murahan".

Selamat mencari rasa kepuasan anda dari sebuah Kaos Distro…